(Oleh : Dra. Hj. Nurlen Afriza, M.A)

 

Di sebuah kota tinggallah dua orang bijak yang sudah hidup bersama selama 30 tahun. Selama itu mereka belum pernah sekalipun bertengkar. Suatu hari seorang dari mereka berkata, ‘‘Tidakkah kau berpikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?’’ Kawannya menyahut, ‘‘Bagus kalau begitu! Mari kita mulai. Apa yang harus kita pertengkarkan?’’ Orang bijak pertama menjawab, ‘‘Bagaimana kalau sepotong roti ini?’’ ‘‘Baiklah, marilah kita bertengkar karena roti ini. Tapi, bagaimana kita melakukannya?’’ tanya orang bijak kedua. Orang bijak pertama lalu berkata,’‘Roti ini punyaku. Ini milikku semua.’’ Orang bijak kedua menjawab,’‘Kalau begitu, ambil saja.’’

Untuk Direnungkan:

Alangkah damainya dunia ini kalau kita semua berperilaku seperti dua orang bijak tersebut. Coba Anda renungkan,bukankah pertengkaran, perselisihan, dan peperangan yang terjadi di dunia ini bersumber dari keinginan kita untuk meminta sesuatu dari orang lain? Kita suka meminta, tapi sayangnya kita tak suka memberi. Di rumah kita meminta perhatian pasangan kita, meminta anak-anak memahami kita, meminta pembantu melayani kita. Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, dan meminta gaji yang tinggi. Di masyarakat, mereka yang mengaku sebagai pemimpin selalu meminta pengertian dan kesabaran masyarakat, meminta masyarakat hidup sederhana dan mengencangkan ikat pinggang. Bahasa kita sehari-hari adalah ‘‘bahasa’’ meminta. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi?

Ada logika sederhana yang melintas di pikiran kita  “Dengan meminta milik kita akan bertambah, sebaliknya dengan memberi milik kita akan berkurang“ Pikiran semacam ini menimbulkan kerakusan dan perasaan takut untuk berbagi,  padahal di dalam Al-Qur’an surat Saba’ ayat  39 Allah berfirman :

. وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِين

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (berikan), maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.”.

Penjelasan yang amat menarik dari Ibnu Katsir rahimahullah mengenai ayat ini. Beliau mengatakan, “Selama engkau menginfakkan sebagian hartamu pada jalan yang Allah perintahkan dan jalan yang dibolehkan, maka Allah-lah yang akan memberi ganti pada kalian di dunia, juga akan memberi ganti berupa pahala dan balasan di akhirat kelak”. [1]َJadi dapat kita simpulkan justru dengan banyak memberi  kita akan banyak pula menerima, bahkan kita akan mendapat dua kebaikan yaitu pertama, akan diganti Allah harta yang kita berikan tersebut di dunia, dan kedua akan diberi ganti berupa pahala dan balasan di akhirat kelak. Coba perhatikan orang yang suka memberi disenangi dalam pergaulan sebaliknya orang yang pelit tidak pernah mau berbagi, tidak disukai bahkan  dibenci orang-orang di lingkungan sekitarnya (baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di  lingkungan tempat dimana ia bekerja)

Sebenarnya keinginan untuk memberi tidak dapat dikaitkan dengan banyaknya harta yang kita miliki, ada orang yang kaya raya tapi sulit sekali memberi, mereka berpikir kalau memberi akan jatuh miskin. Seolah-olah dengan memberi harta mereka akan terkuras habis, mereka sesungguhnya orang yang benar-benar miskin, karena “BUKANKAH KETAKUTAN AKAN KEMISKINAN MERUPAKAN KEMISIKINAN ITU SENDIRI ?

Sebaliknya ada orang yang hidupnya sederhana tetapi senantiasa mau berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang-orang yang kaya. “YANG MENJADIKAN KITA KAYA SEBENARNYA BUKANLAH SEBERAPA BANYAK YANG KITA MILIKI, TETAPI SEBERAPA BANYAK YANG  KITA BERIKAN KEPADA ORANG LAIN”

Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi, kita bisa memberikan perhatian, pengertian, waktu, tenaga, pendapat, pujian, dan ucapan terima kasih. Kita bisa memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya, memberhentikan mobil sebentar untuk memberikan kesempatan menyeberang bagi pejalan kaki, atau kita bisa sekadar memberikan senyuman. Hal-hal sederhana ini bisa berarti banyak bagi orang lain.

Orang yang enggan memberi adalah mereka yang tidak pernah belajar dari kehidupan itu sendiri. Padahal “ESENSI KEHIDUPAN ADALAH MEMBERI, ALLAH SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN ADALAH SANG MAHA PEMBERI”. Lihatlah betapa Allah telah memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli kita taat ataupun engkar inilah “UNCONDITIONAL LOVE”, sebuah cinta tanpa syarat.

Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya, sebagaimana dalam bait sebuah lagu menggambarkan tentang hal ini dengan sangat indah :

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Seperti sang surya menyinari dunia

 

Bahan Bacaan : Life is Beautiful (Arvan Pradiansyah)

 

                                                                       

 

[1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/293.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

 

 

 

Statistik Pengunjung

6 9 6 5 4
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Kemarin
Bulan Ini
Bulan Kemarin
Total
90
101
69654
0
3603
6641
69654
IP Anda : 3.80.177.176
2018-12-10 16:48